Senja
sore itu berbeda dari senja biasa yang ku kenal dan kunikmati. Bukan perihal
dirimu yang tak ada disana saat senja ingin beranjak pergi sore itu atau
mungkin ingatan mengenai dirimu. Senja sore itu ada tangis yang tumpah riuh
secara serempak memekakkan telinga. namun tidak mengganggu, tangis yang begitu
menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Iba, bulir-bulir air mata pun jatuh bebas
membasahi lantai koridor yang entah mengapa menjadi begitu gelap, nampak sangat muram, hanya
seberkas cahaya senja yang sedikit memberi cahaya yang kuharap mampu memberinya
sedikit ketenangan sebagaimana senja biasanya.
Namun
sayang, koridor yang sepi dan gelap itu dengan sinar jingga yang menembus kaca
jendela tidak benar-benar memberikan ketenangan dan kekuatan yang biasa ia
berikan. Seperti orang-orang yang pada umumnya yang seakan terhipnotis oleh
keelokannya di sore hari. Bahkan saat lembayung senja terbentuk pun dengan
sinar jingga kemerahannya yang membawa udara sejuk ke seluruh penjuru kota pun
tak mampu menyejukkan hatinya yang begitu terluka, luka yang menganga begitu
besar. Tak terelakkan. Tubuhnya begitu kaku menatap pintu yang beberapa waktu
tadi terbuka kemudian tertutup kembali. Seolah ada beban besar yang ada di
pundaknya. Ia hanya termangu menatap pintu itu tanpa berkutik
sedikitpun. Tatapannya pun begitu kosong, tak menunjukkan apapun selain
lukanya.
Satu
nyawa meregang sore itu ditengah euforia senja yang sedang indah-indahnya tuk
dinikmati. Ditengah kehangatan senja yang memeluk tubuhnya tanpa diminta, yang masih
saja mencoba untuk menenangkannya namun tak mampu. Bulir-bulir air mata yang ia keluarkan masih
mengharapkan ada kekuatan, ketenangan, dan rasa ikhlas tumbuh dari dalam
dirinya yang begitu rapuh untuk menampungnya sekaligus. "Ia pergi untuk
selamanya" katanya berbisik setengah bergetar, menahan tangis perihnya ditinggalkan. Masih berdiri terpaku didepan pintu
dengan bulir air mata yang masih ia biarkan untuk membasahi pipinya yang kering, mencoba menghapus duka lara yang begitu menyayat hatinya.
Senjaku
sore itu larut dengan suasana pilu yang menguar begitu saja memenuhi seluruh
penjuru ruangan yang ada. Bulir airpun tak terasa ikut turun dari pelupuk
mataku. Aku menoleh kesebuah ruangan yang tengah merawat seseorang, yang berdosakah aku jika aku mengatakan bahwa ia tak begitu berarti untukku tapi
sangat berarti untuk orang yang begitu kusayangi? Ia nampak begitu lemah
dipembaringannya, matanya tertutup, sangat lemah. Aku tak bisa membayangkannya,
bulir air matapun jatuh begitu saja. Hatiku terlalu lemah untuk hal seperti
ini.
Luka
dan duka itu menular, ia mengetuk hati seseorang begitu kerasnya tanpa
berperasaan, menampar dengan hebat. Suara tangis di ujung koridor bertambah
besar, kini ia tak sendiri lagi, pundaknya tak lagi mampu ia topang sendiri. Dinding pertahanannya pun runtuh. Ia
menumpahkan segalanya, sejadi-jadinya.
Benar
kata Gentakiswara dalam bukunya yang berjudul Nelangsa, "Senja itu
berbeda-beda, yang kekal hanya kesedihan". Senja bagi setiap orang itu
berbeda-beda, jingga yang terlihat berbeda-beda. Tergantung siapa yang
menikmatinya, tempat mana yang kau plih untuk menikmatinya, dan waktu atau
dalam kondisi apa kau menikmatinya. Sedangkan kesedihan, tak akan mengenal itu
semua. Ia akan datang apabila ia ingin.
Semoga
ia tak membenci senjanya sore itu...
Makassar,
12 Januari 2019

Komentar
Posting Komentar