Senja sore itu berbeda dari senja biasa yang ku kenal dan kunikmati. Bukan perihal dirimu yang tak ada disana saat senja ingin beranjak pergi sore itu atau mungkin ingatan mengenai dirimu. Senja sore itu ada tangis yang tumpah riuh secara serempak memekakkan telinga. namun tidak mengganggu, tangis yang begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Iba, bulir-bulir air mata pun jatuh bebas membasahi lantai koridor yang entah mengapa menjadi begitu gelap, nampak sangat muram, hanya seberkas cahaya senja yang sedikit memberi cahaya yang kuharap mampu memberinya sedikit ketenangan sebagaimana senja biasanya. Namun sayang, koridor yang sepi dan gelap itu dengan sinar jingga yang menembus kaca jendela tidak benar-benar memberikan ketenangan dan kekuatan yang biasa ia berikan. Seperti orang-orang yang pada umumnya yang seakan terhipnotis oleh keelokannya di sore hari. Bahkan saat lembayung senja terbentuk pun dengan sinar jingga kemerahannya yang membawa udara sejuk ke seluruh...
Kau tahu mengenai rasa yang tersimpan dalam hati ini? Tentang rasa yang hanya kau sampaikan melalu ribuan oksigen yang kau hirup, melalu udara yang selalu kau rasa namun tak pernah kau lihat, melalui tumbuhan yang selalu saja melambai-lambai kearahmu seakan kau mataharinya, melalui senyum yang ku ukir ketika kita bertemu, melalui rasa gengsi yang ku buat ketika kita caggung, melalu mata yang berbinar ketika menatapmu, dan melalui setiap degupan jantungku yang ku tau kau tak mendengarnya.. Miris.. Aku tak berharap banyak dari setiap percakapan atau apapun keadaan yang kita ciptakan bersama, yang aku tahu, ketika aku melihatmu aku senang. Sesederhana itu? Mungkin ya, aku tak berharap banyak karna memang tidak boleh dan aku tau aku tak bisa.. Miris.. Kau tau? Ketika mereka mengumbar tentang kedekatanmu dengannya, aku hanya bisa trsenyum menelan rasa iri padanya. Tau kau lebih sering chat dengannya, tau kau lebih sering bertemu dengannya di luar dengan sebuah perencanaan yang matan...